Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.Demi waktu,Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi.Kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan, dan saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran.( QS. Al-Ashr )

Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Februari 2012

Kenikmatan Mentoring “Lingkaran Shalihah” dari IPB

0 komentar

Mentoring ??

hmm.. kata yang lumayan asing terdengar ditelingaku, bahkan belum pernah mendengarnya sejak aku SMA, istilah itu hadir ketika aku baru masuk di sebuah perguruan tinggi negeri yang tergolong memiliki prestise lumayan terkenal. Dengan wilayah kampus yang hijau dan akan cukup melelahkan juga jika harus berjalan kaki mengelilinginya.

ketika itu, mahasiswa baru angkatan 48 sedang ada kegiatan ‘tour kampus’, yaitu berkeliling kampus didampingi oleh kakak-kakak untuk memperkenalkan keindahan, kehijauan, lingkungan IPB. Dari gedung satu ke gedung lain, dari fakultas A sampai I dan pada akhirnya tibalah di sebuah bangunan besar, luas, tinggi, serta bentuknya yang agak aneh, menurutku. Belum sampai aku masuk ke dalam ruangan, tepatnya masih di teras bangunan itu, ku lihat banyak mbak-mbak yang duduk berpencar, tidak bergerombol serta terdapat juga snack-snack dan minuman dalam gelas kecil. Sembari duduk di tangga, aku melepas sepatu, dan ketika itu aku baru sadar kalau bangunan yang ku anggap aneh itu adalah sebuah masjid. Saat itu pula semua mahasiswi diarahkan ke tempat persinggahan tadi berdasarkan fakultas masing-masing. Terbentuklah beberapa kelompok lingkaran kecil dengan satu kakak pembimbing, dimulailah acara tersebut dengan perkenalan masing-masing individu kemudian dilanjutkan pengenalan fakultas Kehutanan oleh Mbak tadi. Pemahaman dan ketertarikan akan hutan menjadi sangat kuat dalam hatiku. Beberapa menit pun berlalu, kakak mengakhiri acara sharing kita dengan memberi selembar kuisioner, yang isinya adalah pendataan mentoring.

.. Apakah anda sudah pernah mentoring?? ..

salah satu pertanyaan dalam kuisioner itu, tak cukup paham aku untuk menjawab sudah pernah ataukah belum pernah.

…. mentoring?? apa itu yaa? kata yang teramat asing bagiku… dan setelah dijelaskan oleh kakak bisa sedikit aku pahami apa maksud dari kata itu. Ku jawab dengan sudah pernah. Beberapa pertanyaan telah kujawab, tibalah pada pertanyaan terakhir.

.. Apakah anda bersedia untuk mentoring?? ..

dengan seketika, tanpa berpikir panjang, aku tandai dengan jawaban ”tidak”. Nah, kenapa?? karena aku belum begitu paham sekali akan hal itu, dan masih berpikiran negatif tentang itu, disamping karena maraknya berita adanya aliran-aliran baru yang tak sejalan dengan Islam juga. Aku merasa takut dan kupikir lebih baik kuhindari.

Lanjuut sampai inti cerita .

akupun mencari tau, sering menanyakan mentoring itu apa. Setelah mendapatkan jawaban yang kucari, ternyata hal tersebut bukan merupakan suatu hal yang aku khawatirkan.

hmmm.. Mulailah aku mendaftarkan diri untuk bersedia mengikuti mentoring. Pengelompokan pun sudah terbagi dengan satu kakak pembimbing. Saat itu pula aku sangat antusias untuk benar-benar tau kegiatan dalam mentoring itu seperti apa. Setiap minggu aku rutin ikut mentoring, dan di sini aku mendapatkan sebuah pengalaman dan ilmu yang belum pernah aku dapatkan dengan cara seperti itu. Saling sharing, diskusi, bertukar ilmu, pengkajian materi hingga saling mencurahkan hati dan semuanya saling terbuka ..

….

sungguh sangat indah kurasakan menemukan sebuah keluarga baru di sini ..

….

Murabbi….. Itulah sebutan untuk seorang pembimbing atau guru mentoring kami, dan kami sendiri disebut dengan Mutarabbi.

Setelah sempat beberapa kali pindah mentoring dan bahkan pernah ‘double mentoring’, akhirnya aku fokus pada salah satunya saja dan memang seharusnya seperti itu, InsyaALLAH aku akan selalu Istiqomah di dalamnya karena aku sudah menemukan seorang ustadzah (aku menyebutnya seperti itu) sebagai guru pembimbingku, dan sekaligus menjadi kakakku .

yaaa, ketahuilah ini merupakan do’a yang telah dikabulkan oleh ALLAH kepadaku, yang sudah jauh-jauh hari sebelum aku masuk Institut Pertanian Bogor ini. Aku berdoa dalam kediamanku. Kutulis dalam lembaran-lembaran coretan hatiku..

Yaa ALLAH..

tunjukkanlah JalanMU ..

apa yang akan Engkau berikan kepadaku saat ini,

aku yakin pasti itu yang terbaik untuk hamba.

petunjuk dan hidayahMU senantiasa hamba nanti.

Yaa Rabb ..

apakah benar akan Engkau berikan itu kepadaku??

Ustadzah, sebagai seorang yang menjadi PerantaraMU,

untuk selalu berjalan di JalanMU.

Yaa ALLAH ..

pertemukanlah hamba dengannya, bila memang itu rencanaMU.

teguhkanlah niat hamba hanya KarenaMU,

kuatkanlah bathin hamba, semoga itu benar adanya.

Yaa Rab ..

bila mungkin itu tidak Engkau pertemukan,

hamba tak mengapa, semakin dekatkanlah hamba DenganMU,

dengan caraMU yang lain lagi…

Maha Besar ALLAH, SubhanALLAH ..

Sungguh ALLAH Maha Bijaksana, sederet doaku telah ALLAH jawab dengan sangat indah…

Aku mengenal mentoring, menemukan sebuah keluarga baru yang saling terikat tali ukhuwah, saling mengingatkan kebaikan, kebenaran, dan kesabaran, saling bercerita tentang kepribadian diri dalam Islam, mendeskripsikan diri masing-masing hingga tumbuh rasa kekeluargaan, keterbukaan serta ikatan bathin yang kuat dan kokoh. Di sinilah aku merasakan, mentoring bukan hanya tempat menggali ilmu, tapi merupakan sebuah bentuk penjagaan ruhiyah dalam diri dan sebuah kebutuhan yang pasti dalam hidup.

yaa di sini juga aku merasakan, betapa ALLAH sangat sayang kepadaku karena aku sudah dipertemukan dengan orang -orang hebat, teman-teman yang baik dan Murabbi yang sholihah dan sangat baik hati. Sehingga aku bisa semakin dekat dengan ALLAH ..

….

فَبِأَيِّآلَاءرَبِّكُمَاتُكَذِّبَانِ

” maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan??

kudengar lantunan ayat Al-Qur’an dari ponselku..

tak terasa airmataku menetes, membahasi tulisan dalam bukuku ini, betapa banyak kenikmatan yang ALLAH berikan kepadaku, betapa ALLAH selalu memberikan apa yang aku butuhkan. Ketika aku berdoa, tak butuh waktu lama, ALLAH mengabulkan doaku. AlhamdulILLAH, rasa syukurku tak akan pernah putus..

untuk saudari-saudariku dan Murabbi ku sayang ..

semoga kita bisa selalu istiqomah mendekatkan diri kepadaNYA ..

semoga kita selalu dalam penjagaanNYA..

semoga kita bisa mendapatkan RIdhoNYA ..

semoga kita bisa meraih CintaNYA dalam ‘ Lingkaran Sholihah ‘ ini ..

dan.. semoga kebersamaan kita selalu dalam naunganNYA,

membersamai kita, menuju JannahNYA ..

:’))

sungguh, ana ukhibbuki fillaah .. :) )

*Lingkaran Shalihah

Minggu, 15 Januari 2012

Bersama ROHIS, Kutetapkan Yakinku

1 komentar
dakwatuna.com - Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, sahabat-sahabat Kerohanian Islam atau sering dikenal ROHIS di seluruh Indonesia, baik tingkat menengah ataupun atas, semoga Allah memberikan keistiqamahan dalam jalan kalian, dalam keikutsertaan kalian baik aktif ataupun pasif.

Saya hanya ingin sedikit sharing dengan kalian, tentang ROHIS ini, tentang pengalaman, tentang cerita suka dan duka, tentang manfaat teman-teman bergabung dengan ROHIS.

ROHIS, sebuah lembaga yang telah membesarkanku, mendidik dan mengajarkan tentang berbagai hal.
ROHIS merupakan satu lembaga ekstrakurikuler yang lengkap menurut pandangan saya,
ia mengajarkan untuk berorganisasi,
ia mengajarkan untuk dakwah dan ibadah,
ia mengajarkan untuk membina lingkungan sekolah,
ia mengajarkan untuk perencanaan kegiatan,
ia mengajarkan untuk komunikasi efektif,
ia mengajarkan untuk olahraga dan pendidikan jasmani,
ia mengajarkan untuk berjiwa sosial kemasyarakatan,
ia mengajarkan untuk menjadi pemimpin sejati,
ia mengajarkan segala hal yang kita butuhkan dan segala hal yang tidak kita butuhkan tapi bermanfaat untuk kita.

Namun satu hal yang tidak akan ditemui di ekskul manapun adalah ROHIS bisa menjadi jalan Hidayah bagi siapa pun termasuk pengurus dan anggotanya. inilah yang akan kita bahas teman-teman.
Jalan kebaikan, jalan petunjuk dan jalan hidayah, insya Allah.
Meskipun kita tidak merasakannya ketika aktif di ROHIS, tidak merasakan seketika itu juga, tapi yakinlah, suatu saat, kita akan menemukan sentuhan tersembunyi yang telah menjadikan kita seperti sekarang ini.

Mungkin ketika kuliah, atau setelah kerja, atau bahkan ketika tua renta, kita baru teringat, bahwa awal mula kita mengenal tarbiyah islamiyah (pembinaan Islam) adalah di ROHIS ini.

Awal yang mengubah emosi jiwa menjadi jiwa yang teduh penuh cinta,
mengubah dosa menjadi amal pahala,
mengubah rasa takut menjadi berani penuh semangat,
mengubah cara pandang negatif menjadi positif,
Semua mungkin berawal dari sini, dari ROHIS ini.

Oleh karena itu, saya hanya ingin berpesan, siapa pun kita, apapun latar belakang kita, semaksiat-maksiatnya kita, jangan sampai kita meninggalkan organisasi ini, karena ia adalah jalan yang Allah sediakan, untuk membuka hati, membuka emosi, membuka jalan hidayahNya.

Jalan yang menghadirkan pelaku-pelaku kebaikan,
jalan ukhuwah dan kebersamaan yang erat menyatukan semua potensi kejujuran,
jalan yang suatu saat akan membuat kita sadar, bahwa di sinilah kita dibesarkan,
dengan segudang masalah,

Tetaplah berada bersama para pelaku kebaikan,
niscaya kebaikan itu akan mengikutimu,
dan akan mengubah paradigmamu,
bahkan mengubah maksiat-maksiatmu,
Yakin dan tetapkan tekadmu,
inilah jalan terbaik untuk masa depanmu,
bersama ROHIS, aku tetapkan yakinku.

Untuk sahabat ROHIS di seluruh Indonesia, para alumninya,
khusus ROHIS SMA N 55 dan Keluarga Alumni Rohis SMA N 55 (KARIMA),

mari kita bersama menjadi penerus peradaban,
yang melahirkan generasi-generasi rabbani,
mari kita sambut seruan yang mulia,
mari bersama ikuti langkah perjuangan,
di medan dakwah sekolah kita tercinta.

FAJAR FATAHILLAH
- Alumni ROHIS SMAN 55 Jakarta (2004-2006)
- Keluarga Alumni Rohis SMAN 55 (KARIMA)

Markaz Dakwah Pribadi (MPI) JAKARTA, 18 Syawal 1432 H

Oh.. Aktivis... Kau begitu hebat, berkharisma, dan bersemangat. Namun...

0 komentar
Oh.. Aktivis...

Kau begitu hebat dengan segala aktivitasmu, siang maupun malam hari seperti tanpa henti kau memikirkan ummat ini. Terkadang banyak orang yang heran dengan sikapmu yang sangat aktif seperti itu. Membuat orang sangat iri, ingin rasanya mereka ikut terjun bersamamu untuk melakukan sebuah pekerjaan, walaupun mereka hanya tahu kau aktif dalam acara saja (bukan sebagai aktivitas dakwah).


Oh.. Aktivis...

Kau sangat memesona banyak orang. Disibukan dengan berbagai macam kesibukan yang jarang dinikmati oleh orang-orang biasa pada umumnya. Namun engkau tetap teguh dalam alam perjuangan yang begitu penuh tantangan juga kesabaran.


Oh.. Aktivis...

Kau begitu bersemangat ketika melakukan aktivitas dakwahmu. Hadir dalam rapat (syuro) pada waktu yang tepat. Terkadang kau menunggu banyak wajah orang untuk memulai rapat yang kau sudah rencanakan. Namun kau tetap yakin dan teguh dalam menunggu orang untuk memulai rapat.


Namun.. Sayang seribu sayang...

Kau begitu hebat dalam aktivitasmu... Namun mengapa kau seringkali meninggalkan mereka yang berada di dekatmu? Terkadang kau melupakan teman dekatmu yang selalu bersamamu. Terkadang kau meninggalkan kewajibanmu dalam ber-birrul walidain kepada orang tuamu. Terkadang kau memakai banyak alasan untuk sebuah kepentingan yang lebih besar daripada mengurusi mereka. Lalu, siapa yang mengurusi mereka selain dirimu yang hebat itu?


Kau sangat memesona banyak orang... Namun dengan kharismamu yang begitu baik dan membuat orang tersanjung kepadamu, seringkali kau melupakan niat dalam aktivitasmu. Seringkali di dalam hati ini terbesit seseorang yang belum halal bagimu. Seseorang yang berada bersama dalam organisasimu. Seseorang yang sering kali kau lirik dan merasa nyaman bersama dekatnya. Seringkali di dalam hati ini. Seringkali pandangan ini memandang yang bukan haknya. Seringkali niatmu terpeleset dipinggir jalan dalam melaksanakan sebuah kewajiban. Bukankah kau niatkan segala aktivitasmu untuk mendapatkan Ridho-Nya? Lalu mengapa kau terus mengulangi kesalahan yang sama?


Kau begitu bersemangat dalam aktivitas dakwahmu, rapatmu, dan acaramu... Namun ketika Jihad Ilmi menyapamu, seringkali kau patah semangat. Seringkali ketika ujian akademik menerpa, engkau tak bersemangat seperti rapatmu yang terkadang bisa sampai tiga kali sehari. Seringkali ketika Ujian Akhir Semester melanda, engkau langsung menurunkan semangatmu. Bukankah Jihad Ilmi juga termasuk dalam dakwahmu? Lalu bagaimana kau dapat menebar kebaikan jika qudwah yang kau contohkan membuat mereka meremehkanmu?


Semoga kita dapat menyeimbangkan antara aktivitas, kebajiban , dan tanggung jawab kita kelak.
http://lembaransiaktifis.blogspot.com/2012/01/oh-aktivis-kau-begitu-hebat-berkharisma.html

Sabtu, 17 September 2011

Untukmu yang tak kenal lelah

0 komentar

Sahabat Rohis-Tulisan ini sengaja saya buat karena banyak teman-teman yang meminta saya menulis tentang ke istiqomahan, ataupun konsultasi teman-teman dari zine yg saya buat baik via facebook ataupun via sms(afwan untuk kawan-kawan yang belum dibalas pertanyaanya)semoga denga tulisan ini dapat menjawab pertanyaan kawan-kawan dan menjadi bahan bakar untuk terus berjalan dan memancangkan azzam untuk terus menuju garis finis. Berbicara tentang ke



Istiqomahan, mungkin cukup sulit bagi saya. Karena saya juga pernah merasa ingin berhenti dari jalan(dakwah) ini, terlebih ketika keraguan dan kejenuhan teramat sangat, saya bahkan pernah bertanya kepada senior saya “apakah diperbolehkan kecewa dijalan dakwah ini?” dan jawabanya...... ,eits tapi tunggu dulu, nggak seru klo kita bahas dipembukaan. seperti makan aja lebih enak klo urut makannya. makanan pembuka, isi dan pencuci mulut. Sepakat?


Baiklah mari kta bahas mengapa kita melangkah? Tidak sedikit hambatan yang akan kita lalui dalam jalan dakwah ini. Dan tidak sedikit saudara kita yang terjatuh ditengah jalan dan enggan untuk kembali bangkit lagi. Mungkin juga karena terlalu focus kepada luka-lukanya, akhirnya lupa bahwa garis finish masih jauh dan waktu sudah hampir habis. Kawan, dakwah ini seharusnya berhenti kita genggam sampai kita digaris finish, sepakat? Dan garis finish itu adalah cita-cita kita bersama, sepakat? yaitu mati dengan khusnul khotimah, sepakat?(hayo klo pertanyaan ini gk spakat juga saya nggak nanggung lho) Tapi diantara semua kesepakatan kita yang tadi, berapa orang yang mampu menjalankannya? dan membuktikannya?hm...



Saya sempat kecewa terhadap beberapa senior saya yang hengkang atau istirahat dari pekerjaan-pekerjaan dakwah. Padahal dahulu saat saya baru melangakh dijalan dakwah ini saya sempat haru nan kagum akan taujih mereka dengan suara lantang, ataupun kata-kata mereka yang sampai saat ini masih terngiang ditelinga saya “akhii...jika antum terjatuh karena mengejar akhirat niscaya Allah akan mengembalikan semngat mu, tapi jika antum terjatuh karena dunia ingatlah Allah masih mempunyai pekerja-pekerja dakwah yang lain. Pilihan ada di Antum, dakwah bagaikan kereta, hanya 2pilhannya apakah kita mau masuk kereta yang ujung-ujungnya Islam pasti menang, atau gk naik kereta yang ujung-ujungnya islam juga menang” . Tapi kini saya paham apa maksudnya, trima kasih kaka-kaka ku, trima kasih saudara-saudara ku. Dengan kepergian kalian, telah menyadarkan ku. Bahwa aku tidak bisa bersantai-santai dalam mengurusi dakwah ini.


Terima kasih untuk mengajarkan aku bahwa kekecewaan terhadap dakwah adalah kekecewaan tak berdasar karena dakwah bukanlah objek kekecewaan, kalian telah menampakan kepada ku bagaimana karakteristik jalan dakwah “jalannya panjang, orangnya sedikit, ujiannya banyak”. Trima kasih dengan kata-kata kalian “ane kan punya kehidupan lain selain dakwah” itu sekali lagi menyadarkan ku bahwa jalan ini memang pilihan, bukan? bahwa dakwah itu menyeru bukan memaksa apalagi menilai. terima kasih telah memberikan untaian hikmah, bahkan disitrahatnya kalian dari jalan ini.



Saya do’a kan pekerjaan anda, pernikahan dan seluruh urusan dunia anda sukses karena Allah, Amiin. Dan para istiqomah dalam dakwah ini terus ditolong dan diuji oleh Allah terus, baik dengan kesulitan maupun dengan kemudahan, Amiin. Lho...kok nggak adil sih? bukannya tulisan ini tentang keistiqomahan ya? kok dari tadi isi bagus-bagusnya justru untuk orang-orang yang meninggalkan dakwah. Hm...kita sepakat bukan kita ingin bertemu Allah dalam finish line hidup kita?

baik mereka yang istiqomah mau pun tidak, pertanyaannya dalam bentuk apakah kita bertemu Allah? Apakah dengan pekerjaan yang menyibukan kita?pernikahan yang melemahkan dakwah kita, Zauji au dakwati au suami (duh bahasanya campur aduk gini, tapi artinya dakwah ku atau suami ku/istri ku)?. Tidak salah jika hidup ini kita juga mencari dunia bahkan Umar bin Khatab pernah menendang pemuda yang kerjanya hanya zikir dimasjid, tidak salah jika aktivis dakwah juga menikah toh kita juga diwajibkan membentuk keluarga yang mampu mencetak generasi-generasi islam nan gemilang, ttapi yang perlu dagir bawahi adalah itu semua hanyalah sarana, bukan tujuan apagi sampai jadi prioritas utama yang dikejar-kejar “duniawi au dakwati”.



Suatu hari saya sedang online sambil mengerjakan zine edisi berikutnya, seperti biasa secara otomatis YM dikomputer terbuka otomatis. Sesaat kemudia ada seorang pemabaca zine yg juga sekarang jd sahabat saya(akhwat)chat dengan saya. dia bertanya tentang suatu statemen yang ia pernah dengar “menikah itu pelumas dakwah”. Dia bilang bahwa dirinya meraguka pernyataan itu. karena sahabat baiknya yang dulu aktivis dakwah, yang teguh menjaga kehormatannya, pakainya yang syar’i, dan terkenal sebagai akhwat yang lurus, justru berubah total setelah dia menikah. Teman saya bertanya “klo begini bagaimana?” tidak banyak yang saya katakan kepadanya(terlebih karena saya belum merasakan, tuk kawan-kawan yang konsul tentang masalah yang satu ini afwan y jawabannya kurang meyakinkan. tapi saya berusaha bertanya dengan kk saya yg sudah menikah terlebih dengan kk kandung saya yang sebentar lagi mau menikah. jadi I.Allah jawaban saya dapat dipertanggung jawab dan valid. ok).

“Tapi initi permasalahannya adalah bukanlah dinikahnya, melainkan faktor-faktor besar dibaliknya yang menyebabkan demikian”jawab saya.(tapi disini saya tidak membahas tentang itu, mungkin lain kali, klo dah banyak yang mendesak buat nulis, he). Sama halnya dengan dunia, klo dahulu ada sahabat Rasululloh yang saat sholat slalu pertama pulangnya, ternyata setelah ditanya, ternyata saung yang ia gunakan harus bergantian dengan istrinya. Sampai akhirnya ia menta dido’akan oleh Rasululloh agar diberi harta. Beberapa tahun kemudian akhirnya do’a Rasululloh terkabul. namun disinilah inti masalahnya, ternyata bukan makin rajin sholatnya malah sama saja, karena ia sibuk mengurusi hartanya.

Kalo dulu ada salaba, sekarang banyak salaba-salaba lainnya, Semoga ita bukan termasuk didalamnya. Amiin.

LALU KEMANA KITA HARUS MELANGKAH? DALAM BENTUK APA YANG KITA HARAPKAN KETIKA BERTEMU ALLAH.

Review sedikit kawan, masih ingat kata-kata ini “. Dan para istiqomah dalam dakwah ini terus ditolong dan diuji oleh Allah terus, baik dengan kesulitan maupun dengan kemudahan.” kenapa demikian, ya karena kita ingin dan harus bertemu dengan Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya bukan? sudahkah kita merasakan sakitnya bertarbiah, sakitnya berubah...

“aktivis dakwah bukanlah robot bukan pula manusia yang merobot, tiba-tiba menjadi kaku tanpa rasa, sensitivitas, humanis.

tapi mereka menyikapinya dalam bentk yang lain. Bukan karena keterpakasaan. Melainkan karena jalan ini yang menempa mereka tuk seperti itu. Dengan luka-luka yang meneteskan darah, kelak akan menjadi saksi niat ikhlas kita. Luka itu kelak akan bercerita betapa sakitanya berapa kalinya kita jatuh tersungkur, terjatuh terhantam badai, namun kita berusaha bangkit lagi dengan sisa tenaga kita. Mungkin kita masih bisa bangkita kembali, atau mungkin hanya bisa merangkak, atau bahkan merayap dengan merayap dengan kaki yang terseret-seret. Mengenaskan kah?menyedihkan kah bagi kalian ternyata hasil dakwah kita hanya seperti itu? tapi...besabaralah ‘pertolongan Allah itu amat dekat’ itu semua akan menjadi cerita yanga amat indah diAkhirat, dan kita menemui-Nya dengan bentuk yang seindah-indahnya, bahkan mungkin saling berpelukan sambil menangis bahagia”



Terlalu idealis kah saya?(he..semoga tidak...terlebih saya sering melihat orang yang idealis lah yang lebih sering bertahan)

“STAND STILL AND STRAGGLE WITH AND”

Untuk mu yang tak kenal lelah, yang terus berusaha dan berkata yang tak sebatas retorika-retorika tak berimplimentasi, yang tak bungkam akan ke oputinisan orang-orang yang memanfaatkan dan hidup didakwah ini. yang mencoba menebar ribuan mimpi. bukan sekedar mimpi namun mimpi besar “sebuah kebangkitan ummat, dan kemenangan dakwah”

http://www.sahabatrohis.web.id/2011/09/untukmu-yang-tak-kenal-lelah.html

Jumat, 22 Juli 2011

Inspirasi Pelajar Indonesia.. Tak Malu Untuk Kesuksesan..

0 komentar

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA--"Maaf, Mas, jam 4 aku harus ngajar TPA," katanya membuka percakapan. Dia terlihat lelah dan pucat. Memarkir sepedanya di halaman kantor Dompet Dhuafa Yogyakarta, gadis itu masih terengah-engah. "Mau minum?" saya menawarkan. "Terima kasih, saya sedang puasa sunnah Senin," jawabnya cepat. Hebat, batin saya. Perlahan dia menaruh tas gendongnya di kursi dan mulai bicara.

Gadis di depan saya adalah Sri Suryani. Dia baru 16 tahun dan saat ini sedang bersekolah di salah satu SMA favorit di Yogya. Di sekolah dia masuk 10 besar. Yanni, berbeda dengan anak seusianya yang sebagian besar masih asyik bersenang-senang menikmati masa remaja. Di usia remaja dia terpaksa menjadi tulang punggung dan kepala keluarga sejak 2008.

“Tahun 2006 ibu saya, Wiji Lestari, meninggal mendadak di usia 39 tahun, tanpa sebab apa-apa. Saya masih kelas 2 SMP. Saat itu saya sedang mengajar di TPA sore-sore dan tahu-tahu dikabari bahwa Ibu sudah nggak ada. Tahun 2008, bapak saya, Mujiwal (49), terkena stroke. Pekerjaannya sehari-hari sebagai buruh bangunan berhenti,” tuturnya lugas, seolah semua itu bukan masalah yang besar.

Sejak itu, Yanni seketika merangkap jadi kepala keluarga, membiayai dirinya berikut ayah dan Nugroho, adiknya yang masih SD. Untuk membiayai sekolahnya, dia berakit-rakit dari satu beasiswa ke beasiswa yang lain. Salah satunya dari Dompet Dhuafa Yogya, karena sebelumnya dia dibantu oleh BMT Beringharjo yang merupakan mitra DD Yogya. Beasiswa ini dia gunakan untuk membiayai sekolahnya.

Setiap hari Yanni berangkat ke sekolah dari rumahnya di Kampung Bangunrejo, Kelurahan Kricak, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta dengan sepeda. Selepas sekolah, dia mengajari adiknya menyelesaikan PR dan segera berangkat lagi mengajar TPA dan ke tempat privat sampai malam. Honornya relatif, rata-rata Rp 400 ribu sebulan kalau ditotal. Di dusun kecil itu, Yanni hanya tinggal bertiga, keluarga besar orang tuanya berada di Klaten.

"Saya tidak mau merepotkan dan menjadi beban bagi keluarga besar," katanya. Lalu kapan belajarnya? "Saya belajar setiap habis salat tahajud, jam 3 sampai jam 5. Setelah itu ya resik-resik dan menyiapkan kebutuhan Ayah dan adik," tuturnya. Dia mengaku walaupun hanya 2 jam belajar, sudah cukup untuk memahami materi. Hasilnya, pada setiap ujian semester, nilainya cukup memuaskan.

Ketika ditanya bagaimana reaksi teman-temannya dengan kondisinya, Yanni menjawab diplomatis, "Kalau mereka `kan kebanyakan kondisinya ideal, jadi tinggal belajar tok! Saya tetap berhubungan dengan baik dan menerima ajakan mereka selama tidak mengganggu amanah saya.” Selepas SMA tahun depan, cita-citanya hanya satu, masuk Fakultas Kedokteran UGM, menjadi dokter dan berkarya di bidang kesehatan. “Bismillah, semoga Allah meridai. Saya ingin jadi direktur sebuah rumah sakit gratis untuk orang miskin berskala internasional,” katanya berharap. Yanni mengaku sering membaca di koran, banyak keluarga miskin ditolak masuk rumah sakit karena jatah Jamkesmas habis.

“Itu yang salah siapa? Pemerintah atau siapa, saya ingin menolong mereka,” ucapnya menerawang. Cita-citanya untuk kuliah di Yogya bukan tanpa alasan. Ayah dan adiknya sangat butuh perhatiannya. Yanni sendiri sangat berharap, bisa membawa ayahnya ke rumah sakit mengobati stroke-nya, agar ayah nya bisa pulih kembali seperti sedia kala. Walaupun belum tahu bagaimana dia akan meraih cita-citanya, namun setidaknya Yanni sudah memiliki semangat baja dan mental tangguh yang jarang dimiliki bahkan oleh orang dewasa sekali pun.

Redaktur: irf

Reporter: akh

Sumber: Dhompet Dhuafa

Minggu, 05 Juni 2011

Selamat Tinggal Rohisku

0 komentar
,Sebuah perasaan yang amat membingungkan yang kini kita rasakan. Sebuah dilema dalam diri ini yang semakin hari, semakin membingungkan. Hanya Allah saja yang dapat menenangkan hati ini.

Bismillahirrohmanirrohim.

Subhanallah, akhirnya Ana dapat menghirup nafas lega setelah kabar kelulusan itupun menghampiri. Ya benar, Ana sangat senang karena Ana dapat lulus sekolah tingkat SMA dengan hasil keringat sendiri yang telah ditempa selama tiga tahun silam. Bukan dengan cara-cara yang diharamkan oleh Allah untuk menggapai sebuah nilai “kelulusan” dengan mudah, tentu saja “bocoran”. Tapi Ana menghindari itu semua, karena Ana yakin bahwa “Allah akan menolong Hamba-hambanya yang menolong Agama-Nya”. Sungguh sebuah perjalanan hidup yang sangat menyenangkan. Namun ada lagi sebuah perjalanan Ana yang sangat luar biasa. Perjalanan hidup yang hanya didapatkan oleh orang-orang terpilih langsung dari Sang Pencipta. Ya benar sekali, disanalah Ana menemukan Arti Sebuah Kehidupan di masa muda zaman modern seperti ini. Disaat banyak remaja yang tergiur oleh buaian duniawi yang hanya “fana” semata. Dan disana Ana ditempa menjadi seorang Pemuda yang sesungguhnya. Yaitu pemuda harapan Ummat ini.

Sebuah wadah yang penuh dengan kenangan, penuh dengan pengalaman, penuh dengan cobaan, dan penuh dengan tanggung jawab. Itulah Rohis (Rohani Islam). Tempat pertama kali Ana bermuara dalam indahnya kata “Perjuangan” yang sebenarnya. Disana Ana ditempa menjadi seorang Pemuda yang sebenarnya. Tidak hanya memikirkan Akademik semata yang dilakukan oleh Pelajar umumnya, namun Ana ditempa menjadi seorang Pelajar yang berakademik baik sekaligus membentuk akhlak yang bai pula. Dan yang tidak ketinggalan lagi, disini Ana dibentuk untuk menjadi “Penyeru” dalam kebaikan, kebenaran, yaitu Penyeru dalam “Kebaikan”. Itulah Dakwah Sekolah.

Sungguh luar biasa mereka semua. Disaat orang lain sedang sibuk-sibuknya dalam menggapai kesenangan duniawi, mengejar akademik, menjalin percintaan yang diharamkan, berfoya-foya, dan sebagainya, namun kita dibentuk untuk memperbaiki diri sendiri sekaligus memperbaiki orang lain juga. Memikirkan orang lain juga. Dan Ana yakin sekali suatu hari nanti mereka semua akan menjadi Pemimpin yang luar biasa. Menjadi orang-orang yang akan membentuk Moral sebuah bangsa ini kedepannya. Minimal pemimpin untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Karena mereka semua adalah orang-orang spesial yang pernah Ana kenal.

Di awal memasuki pintu “Gerbang Dakwah Sekolah” itulah Ana merasakan sesuatu yang berbeda. Menemukan banyak teman-teman dan sahabat-sahabat perjuangan yang sebenarnya. Yaitu yang selalu menegur kita saat dalam kemaksiatan, kesalahan, dan khilaf. Dan juga mengajak kita selalu dalam menempa diri menjadi Muslim Sejati. Mengajak kita untuk selalu memperbaiki diri ini yang kotor berlumur banyak dosa-dosa. Subhanallah.. Masih terbesit dalam memoriku saat mereka mengirim SMS Tausyiah yang menggelorakan jiwa untuk untuk bangkit menuju kebaikan dan berlomba-lomba menggapai Ridho-Nya.

Ya. Masih sangat terbesit dan sepertinya takkan terlupakan begitu saja saat kita membuat sebuah acara di Rohis itu. Saat kita menyusun sebuah konsep acara bersama, syuro, diskusi, membentuk kepanitiaan, menyebar proposal, dan menjadi panitia saat hari “H”. Terkadang banyak ide-ide yang bentrok antar panitia. Terutama antar panitia ikhwan dengan akhwat. Masih sangat terbesit dalam memori ini saat gagasa menolak atau merubah konsep yang sangat kontradiksi antar kita. Sampai-sampai ada juga yang kecewa, menangis, sedih, dan sakit hati. Namun setelah itu, kami belajar sebuah arti kedewasaan dalam kehidupan ini. Saling memaafkan dan memahami adalah sebuah kata kunci untuk itu. Alhamdulillah Ya Allah.

Ya. Sesuai target kita, banyak anak-anak Rohis yang mendapat juara kelas, nilai yang memuaskan, ikut Olimpiade, OSN, anak kesayangan guru, teladan kelas, dan sebagainya. Itulah kita, pemuda-pemudi Islam yang Cerdas dan Berakhlak baik. Tak jarang banyak diantara kita yang mendapat penghargaan baik dari sekolah kita. Subhanallah Ana menumak jalan yang benar saat masa muda Ana. Menempa diri menjadi Pemuda-Pemudi Islam sejati.

Suatu ketika, kabar yang pasti kan datang tiba juga. Sebuah takdir yang telah Allah tetapkan. Bahwa jika ada Siang, akan ada Malam yang menggantikannya. Jika ada hari Senin, akan datang hari Selasa. Begitu seterusnya roda kehidupan ini. Jika ada sebuah pertemuan, pastilah ada sebuah perpisahan yang kan terjadi. Itulah yang akan kita hadapi. Dan kini telah terjadi kawanku. Ana sangat sedih saat perpisahan itu datang karena harus menginggalkan sekolah tercinta yang merupakan sebuah Ladang Amal kita untuk mencari Ridho-Nya. Juga sangat sedih saat menginggalkan sebuah wadah yang dahulu Ana diajarkan tentang menemui arti sebuah kehidupan di masa belia ini. Akhirnya perpisahan itu memaksa kita untuk berpisah terhadap teman-teman dan sahabat-sahabat perjuangan kita di Rohis selama ini. Yang penuh dengan senyuman, canda, tawa, keseriusan, kadang pula ada duka yang menghampiri.

Inilah sebuah dilema dalam diri Ana yang masih terbesit hingga sekarang. Antara senang dan sedih. Senang karena akan terjun baru dalam dunia Dakwah Kampus, yang mempunyai tantangan luar biasa dan akan bertemu juga dengan orang-orang yang luar biasa. Namun disisi lain sedih. Sedih karena harus meninggalkan Rohis. Bukannya Ana sedih karena hal duniawi kawanku. Namun karena Ana sedih, bagaimana dengan Kaderisasi dan Pembinaan akan Rohis kedepannya? Disaat banyak Alumni yang sudah semakin goyang dalam kancahnya untuk menjadi Aktifis Dakwah Sekolah ini karena kesibukan mereka diluar sana. Terlebih lagi saat kita mendapat Pendidikan Kuliah di luar daerah sana yang jauh. Sedih karena khawatir tidak dapat mengontrol adik-adik perjuangan kita di Rohis. Sedih karena ada sebuah pertanyaan besar “Bagaimana Rohis ke-Depannya?” Sedih karena takut, Ana futur dipertengahan Jalan ini. Memang saat awal-awalnya mempunyai semangat yang membara dan menggebu-gebu, namun saat dipertengahan bahkan akhirnya bagaimana?

Ya. Memang benar masih ada teman perjuangan kita yang masih ada disana. Namun apakah itu dapat bertahan lama jika dia seorang diri untuk mengurusi sebuah amanah yang sangat luar biasa? Jika dia futur, siapa yang menggantikan? Sementara kita hanya melihat dan asyik dalam dunia kampus saja. Hanya sebuah sokongan yang dapat Ana berikan, yaitu Do’a Rabithoh untuk menguatkan hati-hati kita dalam perjuangan ini. Dan semoga kita semua menjadi Agent of Leader yang membentok Moral Bangsa ini kedepannya. Walaupun melalui sebuah wadah bernama Rohis.

Sedih hati ini saat mengatakan “Selamat Tinggal Rohisku, Selamat Tinggal Sahabatku”.

Rabu, 04 Mei 2011

Renungkan Kembali Antum Sebagai Kader Rohis

0 komentar
Renungkanlah ikhwafillah...

Antum sebenarnya di Rohis ini mau ngapain? Eksistensi? Cari Jodoh? Cari Pengalaman Saja? Cari Uang? Atau Cari Waktu Kosong Saja?

Renungkanlah kembali mengapa harus kita yang berada disini. Mengurusi urusan orang lain untuk menuju kehidupan lebih baik dan menegakan Islam. Juga menunjukan Islam itu tidak hanya mengaji dan mengaji saja. Namun banyak yang tertaut dalam Indahnya Islam, Indahnya Menjadi Muslim Sejati, Indahnya Hidup dalam Naungan Islamiyah.

Namun apakah kita sudah merenungkan kembali mengapa kita berada dalam "Jalan" ini? Jalan yang panjang, Jalan yang Berliku-Liku, Jalan yang penuh dengan Godaan dan Tantangan. Bukan jalan yang enak dan melenakan.

Coba antum bayangkan, disaat orang lain sedang sibuk dengan pelajaran dan hal duniawi saja, tapi antum berusaha untuk mengerjakan pekerjaan yang lebih, yaitu membenahi diri mendekatkan diri kepada Allah SWT. dan juga antum membuat program-program yang bermanfaat untuk antum sendiri dan orang lain? Betapa Istimewanya kita... Bukan lagi memikirkan diri sendiri saja, namun memikirkan orang lain juga. Belum lagi PR yang menumpuk, Belum lagi ada Pejerjaan di Rumah, Belum lagi ada Les/Kursus, dll. Mengapa antum tidak merenungkan kembali mengapa kita berda disini?

Ya.. Memang ane mengakui kehebatan antum untuk membuat sebuah acara besar dan sedang..

Ya.. Memang ane mengakui kalau antum lebih hebat dari ane..

Ya.. Memang antum lah yang lebih hebat..

Namun yang harus antum ketahui, Seberapa Dekatnya antum kepada Allah..?

Sudahkah antum menjalankan semua kewajibannya dan juga menjalankan yang di Sunnahkan Rasulullah..?

Sudahkah antum memberi tauladan yang baik kepada teman-teman antum..?

Sudahkah antum menegur teman2 antum yang melakukan maksia..?

Sudahkah antum mengerjakan "Amar Ma'ruf Nahi Munkar"?

Yang Jelas, SEMAKIN antum mengeluarkan program banyak dan besar, ANTUM harus mempunyai Chargeran IMAN yang lebih.. Karena jika tidak dibarengi dengan KEIMANAN, antum akan mudah GOYAH dan Tujuan antum Bukan lagi berorientasi kepada Ridho Allah. Namun mengejar PUJIAN Manusia.

Bayangkan Akhi wa Ukhti...

dalm hadits Qudsi, Seorang Mujahid Ketika bertemu dengan Allah, dia tidak masuk syurga, karena yang dia inginkan hanyalah Kegagahan..

Seorang Penghafal Qur'an dan menjadi Imam ketika bertemu dengan Allah, dia tidak jadi masuk syurga, karena yang dia niatkan hanyalah pujian Manusia dengan suaranya yang merdu..

Seorang Dermawan ketika bertemu dengan Allah, dia tidak jadi masuk ke Syurga, karena dia berniat karena Ria/Sombong..

Ketika mendengar kisah ini, seorang SAHABAT Rasulullah langsung menangis dan pingsan.. Ketika bangun dan mendengarnya kembali, ia kembali pingsan... Padahal SAHABAT Rasulullah itu adalah orang yang rajin beribadah..

Lantas bagaimanakah dengan kita yg sudah ditinggalkan jauh dari Zaman Rasulullah...?

Bayangkan Akhi wa Ukhti... Sudahkan antum merenungkan kembali...?

Jangan sampai antum kalah dengan KEBATHILAN...

Untuk program Dakwah, jangan hanya membuat acara yang Inklusif saja (untuk internal saja). Namun antum juga harus membuat acara untuk Eksternal Juga. Rangkul semua.. Jangan hanya di kalangan sendiri saja.

Memang benar utamakan yang internal dulu, NAMUN Tanggung Jawab Antum Sebagai Pengurus Rohis dan Seorang Da'i mana terhadap Orang Lain yang sangat membutuhkan???

Apalagi sekarang sedang beredar kasus NII dan Terorisme..

Antum sudah tau belum dampak buruknya terhadap ROHIS...?

Rohis di "blacklist" sebagai salah satu sumber Radikalisasi. (Pernyataan Sydne Jones beberapa waktu lalu)

Juga sebagai celah masuknya NII.

Bayangkan sampai acara rohis, mentoring saja dipantau terus. Dan juga banyak rohis2 sekolah lain disana yang sudah gulung tikar dan menutup rapat terhadap Rohis.. Banyak Orang Tua juga meng-Cover anak-anaknya untuk ikuti program Rohis.. Juga Pandangan Sinis banyak orang terhadap Rohis...

Padahal Rohis itu adalah Mengajarkan Kita Untuk Mejadi Muslim Sejari (Allah,Rasulullah,Al-Qur'an,Hadits)

Sudah banyak prestasi yang dibawa KADER Rohis. Dari Juara Kelas, Juara Olimpiade, Juara lomba, rangking 1, Murid terbaik, Murid Tersopan, Sering mengerjakan PR, Anak Kesayangan Guru, dll. Banyak yang sudah diukir oleh Rohis. Karena Rohis itu mengajarkan kita untuk menjadi lebih baik. Muslim yang Cerdas dan Berakhlak Baik..

Dasar "mereka" saja yang tidak senang dengan rohis yang mengaitkan masalah NII dan Radikalisme dengan Rohis.

Apakah Antum Rela Kondisi ini terus memuncak dan semakin para? Media Masa sudah gencar mem-posting masalah ini. Apakah Antum Diam Saja Akhi wa Ukhti...?

Apakah antum menunggu sampai penyesalan itu datang dan antum hanya Menangis Saja?

Penuhi Tarbiyah Antum.. Penuhi Hari Antum dengan Iman.. Penuhi Diri Antum dengan Ilmu..

lalu Buatlah Program2 yang berguna untuk itu Semua...

Bukan malah sibuk dengan program, namun tarbiyah dan Iman antum di nomer duakan.. Salah besar.. Harus dibarengi..

Sabtu, 29 Januari 2011

Aktivis Rohis, Engkau Dengan Segala Amanah dan Masalah

0 komentar
Merekalah, ujung tombak para pejuang panji risalah-Nya, mulai kini hingga nanti, akhir zaman. Sekilas tentang mereka. Amanah mereka banyak. Tak terhitung lagi jumlah kilo-an-nya jika amanah itu harus ditimbang. Kembali menuju risalah Islam, menjadi qudwah, memberikan ikhwah, menyebarkan hikmah, melaksanakan indahnya hidup sesuai tuntunan syar’I untuk kembali dan lagi disebarkan dan diserukan.

Mereka berbeda dengan yang lainnya. Disaat orang lain hanya sibuk memikirkan dirinya (bagaimana sekolahnya, bagaimana keluargannya dan bagaimana amanah-amanah duniawi lainnya), seorang aktivis dakwah justru harus memikirkan bagaimana keadaan lingkunagan masyarakatnya, dirinya sendiri, mad’u-mad’u / mutarabbi-mutarabbinya (binaan-binaan) dan lain sebagainya.

Mereka berbeda dengan yang lainnya –baca: remaja lainnya–. Dikala remaja saat ini terlarut dalam pergaulannya, seorang aktivis dakwah justru harus ‘melarutkan’ pergaulan itu sesuai tuntutan Allah.
Mereka berbeda dengan remaja lainnya. Mereka –harusnya– tidak terlalu banyak tertawa, bercanda dan mengumbar pesona. Mereka –harusnya– tidak banyak menghabiskan waktunya untuk hal tidak berguna, ‘hang-out’ –kecuali di masjid–, kumpul tiada guna, merokok juga mabuk-mabukan.


Mereka –harusnya– menjaga hijab, bukan mukhrim dilarang mendekat, apalagi masalah ngeceng ataupun pacaran... –harusnya– mereka sangat menjauh dari hal yang dilaknat oleh Allah itu. Tak penting kata orang dikata ‘ga gaul’ atau ‘aneh’ atau apapun cercaan serta makian lainnya.

Karena mereka berbeda. Mereka harus menjadi qudwah (teladan) bagi yang lainnya, memberikan semua yang terbaik bagi yang lainnya. Mereka berbeda, mereka spesial.

Yang terpenting adalah syariah Islam tegak berdiri ditempat yang sedang dipijak.

Mereka liqa / mentoring rutin. Dengan dipimpin seorang murabbi pantuan mereka tilawah Al-Qur’an, mendengarkan materi untuk kemudian disebarkan. Dan setelah selesai mereka berdo’a:

“Subhanaka allahuma wabihamdik(a), asyhaduala illa hailla ant(a), astagfiruka waatuuilaik(a).”

Do’a akhir majelis itu dilantunkan penuh hikmah pertanda mentoring t’lah berakhir. Dan malaikat berharap semoga mentoring kali ini –kemarin dan seterusnya– tidak membuang waktu mereka untuk hanya duduk termenung mendangarkan saja tanpa amalan indah dilakukan.
Sungguh indah hidup mereka selalu dido’akan para malaikat pencari majelis dzikir pun malaikat pencari orang-orang shalih –amiiin–.

Tapi... tak sedikit pula –bahkan banyak– dari mereka yang mengaku menyeru padahal hanya terperangkap dalam lingkaran setan yang menganggu.

Bagaimana tidak? Potensi mereka untuk menjadi riya’ sangatlah mungkin! Potensi mereka untuk menjadi sum’ah sangatlah besar! Mereka dapat menjadi kufur, fasik, bahkan munafik sewaktu-waktu dan hanya memampangakn dan menyembunyikan mukanya dibalik topeng dakwah.

“Liat anak-anak DKM! Mereka aja maksiatnya kuat! Mereka pacarannya rutin! Mojok tapi masi berjilbab, yang ‘ikhwan’ masih megang qur’an! Kalo mau lepas aja tu jilbab sama buang aja tuh qur’an ato engga sekalian aja keluar dari DKM dari pada malu-maluin! Ngomongin cinta-cintaan mulu! Ada yang cinlok cewe (akhwat) ama cowo (ikhwan) terus jadian! Katanya sih pacaran islami gitu –emang ada? –! Pegangan tangan udah biasa apalagi pojok-pojokan! Hijabnya mana?!”

“Liat FB! Wall, note, stat mereka udah jadi ladang maksiat! Haha, kirain anak DKM tu yang ga tau pacaran tapi statusnya ‘in relationship’. Kirain mau ‘meng-Islamisasi-kan’ FB, eh gataunya... Bedanya ama kita yang bukan seorang yang ‘ngaku’ aktivis apaan?! Mending ga jadi aktivis sekalian tapi kebaikatn tulus dari hati! Majang status anak ‘alim’ doang!”

–afwan, sebuah hujjah untuk introspeksi bukan untuk diprotesi–

Menangis mendengar kalimat hujjah yang terlempar itu... bertanya dimana generasi rabbani yang didambakan? Dimana mereka sang pejuang panji risalah? Dimana mereka sang pemikul amanah? Sang teladan dan qudwah? Sang penyebar ikhwah dan hikmah?

Kehilangan semua status kebaikan karena telah bobroknya sistem tarbiyah yang menjadi protektor. Telah hilang semuanya dikarenakan pola pikir azazil (al-iblis laknatullah) yang telah membungkus ruhiyah.
Menangis mendengar mengingat kembali...:

“Saat manusia memenuhi kebutuhannya sendiri, seorang mujahid berjuang memenuhi kebutuhan orang lain. Saat manusia beristirahat, seorang mujahid masih bekerja keras menyempurnakan amanah-amanahnya. Semoga Allah memberkahi, memuliakan dan menolong kalian para mujahid... yang senantiasa MENJAGA kehormatan setiap jengkal bumi kaum muslimin...” (Kata-kata murabbi –mentor– yang selalu terkenang saat Ar-Ribaath, Training for Mentor ROHANI-554, 24 Sya’ban - 24 Ramadhan 1430H)

Andai semua itu nyata. Tak hanya sebuah utopia maya. Bagaimana mungkin Islam tersebar ke seluruh hati umat manusia? Bagaimana mungkin Indonesia kan bangkit dengan Islam-nya? Bagaimana mungkin Palestina kan terbebas dari penjajahannya? Bagaimana mungkin genjatan senjata menjadi nyata keberadaannya? Bagaimana mungkin pasukan Al-Mahdi menang melawan pasukan Dajjal –lakatullah– yang memeranginya?

Jika aktivis sekarang sibuk dengan masalahnya... bukan amanahnya...

“ Hallo kawan...
Sahabat muslim tercinta...
Kita sambut kemenangn bahagia...
Mari kawan...
Ikutlah bersama kami...
Membela risalah Islam di dunia...

Remaja peduli...
Pintar dan mandiri...
Giat berprestasi...
Ku persambahkan untuk Illahi...
Bersatu, berjihad, dalam da’wah Islam,
Di atas panji Al-Qur’an dan As-Sunnah...

Mari kawan...
Ikutlah bersama kami...
Membela risalah Islam didunia, kita... ”


(Edcoustic – Remaja Peduli)

Berubahlah... karena engkau berbeda, karena engkau spesial.


Ditemani senandung dari Edcoustic, Fridaus, Shaff-Fix, Haris Isa, D’Cinnamons D’Masiv dan Depapepe
Bumi Allah, 28 Ramadhan 1430 H – 17 September 2009 M
Annas Ta'limuddin Maulana

http://www.annasmaulana.co.cc/2010/12/aktivis-aktivis-engkau-dengan-segala.html

Rabu, 17 November 2010

Manis-Pahitnya Dakwah

0 komentar
Kamu jadi aktivis rohis? Berbahagialah, karena kamu udah peduli dengan nasib dirimu, dan juga kawanmu. Maklumlah, anak rohis kan identik banget dengan kegiatan keislaman. Bahkan jadi ciri khas bahwa anak rohis adalah anak-anak yang hobinya ‘nyeramahin’ anak lain. Tapi jangan salah lho, bukan berarti aktivitas itu tanpa risiko. Ada aja risiko yang kudu kamu tanggung. Bahkan mungkin kudu dibayar mahal. Bener. Maka jangan kaget kalo anak rohis, selain banyak temannya, juga nggak sedikit ‘musuh’nya.

Sobat muda muslim, sebenarnya aktivitas dakwah nggak dibebankan kepada anak-anak yang udah biasa ngetem di masjid aja. Anak-anak lain, asal dia muslim or muslimah, juga punya tanggung jawab yang sama untuk mengingatkan teman lain kalo berbuat maksiat. Pendek kata, kamu yang bukan anak rohis pun, punya juga kewajiban menyampaikan Islam kepada siapa saja. Itu artinya, dakwah emang bukan spesialis anak rohis aja. Semua orang bisa dan bahkan kudu bin wajib melakukan dakwah. Nggak dikavling-kavling tugasnya.

Kadang bagi sebagian remaja, mengingatkan teman yang berbuat maksiat gampang-gampang susah (atau susah-susah gampang kali yee..?). Yup, dua-duanya juga bener. Begini, dibilang gampang, emang gampang. Kita tinggal ngomong atau sekadar nulis apa yang kita nggak suka terhadap apa yang dilakukan sebagian teman-teman kita. Beres kan? Tapi kadang susah juga buat sebagian teman kita. Apa susahnya? Pas mau ngomong ngingetin teman, suka nggak enak, sungkan, dan seabreg kendala teknis lainnya. Nha lho, ati-ati tuh!

Kalo susah-susah gampang gimana? Begini, sebagian dari kita kadang susah banget untuk menjalani aktivitas ini. Masih ngukur-ngukur diri. Katanya sih, belum layak kalo harus ngingetin orang, sementara dirinya merasa masih belepotan dosa. Hmm… padahal, apa susahnya cuma ngingetin. Iya nggak? Lagian, dengan begitu kita jadi punya tanggung jawab moral. Sedikit demi sedikit bakalan tumbuh juga kan sikap ingin menyesuaikan dengan apa yang kita ucapkan. Betul? Yakin itu. Jadi ternyata gampang juga kan? He..he. udah deh, kita nggak usah ngeributan istilah gampang-gampang susah dan susah-susah gampang. Nyang penting jalanin aja deh aktivitas mulia ini.

Seperti sekarang nih, maksiat kian merajalela. Media massa cetak dan elektronik getol ikut membantu mensyiarkan kemaksiatan. Hasilnya? Kita semua dikepung dari berbagai arah penjuru angin. Nyaris nggak bisa bernafas. Semua media seperti seragam; memberi menu pornografi, kekerasan, dan juga seks. Kalo pun ada media Islam, ‘sinyal’nya nggak begitu kuat untuk mengalahkan dominasi bacaan dan tayangan yang mengabaikan aspek moral dan ajaran agama. Menyedihkan.

Itu sebabnya, peran kita dalam dakwah juga harus terus diaktifkan. Nggak kenal lelah, pantang menyerah. Maju terus pantang mundur. Nyalakan terus semangat di jiwa kita. Dakwah adalah jalan yang harus kita tempuh, apa pun risikonya. Sebab, tanpa dakwah, kemaksiatan ini makin membudaya dan orang yang bermaksiat kian merasa aman. Betul?
Aktivitas yang mulia
Islam adalah agama dakwah. Salah satu inti dari ajaran Islam memang perintah kepada umatnya untuk berdakwah, yakni mengajak manusia kepada jalan Allah (tauhid) dengan hikmah (hujjah atau argumen). Kepedulian terhadap dakwah jugalah yang menjadi trademark seorang mukmin. Artinya, orang mukmin yang cuek bebek sama dakwah berarti bukan mukmin sejati. Bener, lho. Apa iya kamu tega kalo ada teman kamu yang berbuat maksiat kamu diemin aja?
Bahkan Allah memuji aktivitas mulia ini dalam firman-Nya: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim" (QS Fushshilat [41]: 33)

Dalam ayat lain Allah memerintahkan kepada umatnya untuk berdakwah. Seperti dalam firman-Nya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS an-Nahl [16]: 125)

Menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan munkar merupakan identitas seorang muslim. Itu sebabnya, Islam begitu dinamis. Buktinya, mampu mencapai hingga sepertiga dunia. Itu artinya, hampir seluruh penghuni daratan di dunia ini pernah hidup bersama Islam. Kamu tahu, ketika kita belajar ilmu bumi, disebutkan bahwa dunia ini terdiri dari sepertiga daratan dan dua pertiga lautan. Wah, hebat juga ya para pendahulu kita? Betul, sebab mereka memiliki semangat yang tinggi untuk menegakkan kalimat “tauhid” di bumi ini. Sesuai dengan seruan Allah: “Dan perangilah mereka itu, hingga tidak ada fitnah lagi dan (hingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.” (al-Baqarah [2]: 193)

Kini, di jaman yang udah jauh berubah ketimbang di “jaman onta”, arus informasi makin sulit dikontrol. Internet, misalnya, telah mampu memberikan nuansa budaya baru. Kecepatan informasi yang disampaikannya ibarat pisau bermata dua. Bisa menguntungkan sekaligus merugikan. Celakanya, ternyata kita kudu ngurut dada lama-lama, bahwa kenyataan yang harus kita hadapi dan rasakan adalah lunturnya nilai-nilai ajaran Islam kita. Tentu ini akibat informasi rusak yang telah meracuni pikiran dan perasaan kita. Utamanya remaja Muslim. Kita bisa saksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa banyak teman remaja yang tergoda dengan beragam rayuan maut peradaban rusak itu; seks bebas, narkoba, dan beragam kriminalitas. Walhasil, amburadul deh!

Sobat muda muslim, Islam membutuhkan tenaga, harta, dan bahkan nyawa kita untuk menegakkan agama Allah ini. Dengan aktivitas dakwah yang kita lakukan, maka kerusakan yang tengah berlangsung ini masih mungkin untuk dihentikan, bahkan kita mampu untuk membangun kembali dan mengokohkannya. Tentu, semua ini bergantung kepada partisipasi kita dalam dakwah ini.

Coba, apa kamu nggak risih dengan maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja? Apa kamu nggak merasa was-was dengan tingkat kriminalitas pelajar yang makin meroket? Apa kamu nggak kesel ngeliat tingkah remaja yang hidupnya nggak dilandasi dengan ajaran Islam? Seharusnya masalah-masalah model beginilah yang menjadi persoalan kita siang dan malam. Beban yang seharusnya bisa mengambil jatah porsi makan kita, beban yang seharusnya menggerogoti waktu istirahat kita, dan beban yang senantiasa membuat pikiran dan perasaan kita nggak tenang kalo belum berbuat untuk menyadarkan mereka.

Itu sebabnya, kita kudu melakukan aktivitas mulia ini, sebagai bukti kasih sayang kita kepada saudara yang lain. Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan keadaan suatu kaum atau masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah (mencegah kemungkaran) adalah ibarat satu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat duduknya masing-masing, ada yang di bagian atas dan sebagian di bagian bawah. Dan bila ada orang yang di bagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk di bagian atasnya.

Sehingga orang yang di bawah tadi berkata: “Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak mengganggu orang lain di atas.” Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa.” (HR Bukhari)

Untuk ke arah sana, tentu membutuhkan kerjasama yang solid di antara kita. Sebab, kita menyadari bahwa kita bukanlah Superman atawa Rambo yang bisa melakukan aksi menumpas kejahatan hanya dengan seorang diri. Kalo kita ingin cepat membereskan berbagai persoalan tentu butuh kerjasama yang apik, solid dan fokus pada masalah. Pemikiran dan perasaan di antara kita kudu disatukan dengan ikatan akidah Islam yang lurus dan benar. Kita harus satu persepsi, bahwa Islam harus tegak di muka bumi ini. Kita harus memiliki cita-cita, bahwa Islam harus menjadi nomor satu di dunia untuk mengalahkan segala bentuk kekufuran. Itulah di antaranya kenapa kita wajib berdakwah.
Subur dengan cobaan
Sobat muda muslim, aktivitas mulia ini ternyata kudu berhadapan dengan segala risiko. Risiko yang nggak jarang bikin kita sebagian dari kita berguguran di tengah jalan. Nggak kuat nahan bebannya. Itu sebabnya, kesabaran dan keimanan yang mantep sangat dibutuhkan dalam mengarungi medan dakwah ini. Para pendahulu kita juga pernah mengalami hal demikian. Allah Swt. mengabadikannya dalam al-Quran: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS al-Baqarah [2]: 214)

Coba, gimana menderitanya Amar bin Yasir yang disiksa oleh para pembesar Quraisy ketika awal-awal Islam berkembang di kota Mekkah. Nggak hanya itu, beliau harus rela menyaksikan kedua ortunya gugur sebagai syuhada di depan mata kepalanya sendiri. Kita juga bisa meneladani bagaimana pula pengorbanan Bilal bin Rabbah yang rela dijemur di siang hari yang panas dan tubuhnya ditindih batu, sementara pasir di bawahnya terasa membakar kulitnya. Tapi, subhanallah, Bilal sanggup melewatinya dengan kesabaran dan keimanan yang tetap menancap di hatinya.

Boleh dibilang, di balik manisnya aktivitas dakwah, ternyata menyimpan rasa pahit yang amat sangat. Tapi ini sebuah pilihan. Dan setiap pilihan ada risikonya. Rasulullah saw. pun pernah berkata kepada pamannya, pada saat ia meminta beliau untuk mengurangi kegiatan dakwahnya,: “(Paman), demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini, aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan agama ini atau aku hancur karenanya.” (dalam Sirah Ibnu Hisyam)

Kontan aja berbagai penyiksaan dialami para sahabatnya. Pembesar Quraisy sendiri bahkan sempat akan membunuh Muhammad. Berat juga emang. Ya, begitulah, menyampaikan kebenaran Islam kepada mereka yang mulai pudar dengan Islamnya, apalagi yang membenci Islam, akan ada aja gesekannya. Maklumlah, seperti kata pepatah “bagi mereka yang sudah terbiasa dengan kegelapan, cahaya terang memang menyilaukan”. Pantes aja kalo kita ngasih tahu sama mereka yang masih doyan maksiat, suka reaktif. Langsung kaget dan mungkin menyerang kita, dari yang sekadar umpatan sampe pukulan.

Padahal, maksud kita juga adalah menolongnya. Sekadar mengingatkannya. Dan itu bukan berarti kita udah benar en suci. Sangat boleh jadi kita juga masih perlu belajar banyak. Ya, kita sama-sama aja jalan ke arah kebaikan. Kata Kahlil Gibran, “Engkau buta, sedangkan aku bisu tuli. Jadi mari berpegangan agar mengerti” Tul nggak?

Kesabaran dan istiqomah juga harus dimiliki setiap pegiat dakwah. Bahkan itu akan menjadi penghibur kita di kala sedih. Biarlah sekarang kita dbilangin sok tahu, mau menang sendiri, sok suci, tukang kritik orang, fanatik, fundamentalis. Meski semua itu juga nggak benar, cuma anggapan mereka yang nggak suka aja sama aktivitas dakwah. Kita nggak gentar, karena Allah menjanjikan kenikmatan dalam bentuk lain. Firman Allah Swt.:“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS Fushilat [41]: 30)

Oke deh, nyalakan terus semangatmu untuk berdakwah. Apa pun yang bakal terjadi. Ini pilihan hidup kita. Jalan yang insya Allah bisa mengantarkan kebangkitan Islam dan umatnya. Tetep semangat sobat!?

Selasa, 19 Januari 2010

Pemuda...? Emang Penting Yeh...?

0 komentar
Kebenaran dan kebathilan merupakan suatu hukum alam yang pasti berlaku di dunia ini, dimana ada kebenaran disitu ada kebathilan. Kebatilan yang bersifat merusak merupakan suatu akibat yang timbul akibat lemahnya potensi kebaikan yang termanfaatkan dan terberdayakan. Karena itu berjuang menegakkan kebenaran, keadilan dan kedamaian dimuka bumi ini merupakan rangkaian upaya menuju pemberdayaan dan pemanfaatan potensi kebaikan yang terdapat pada setiap insan. Setiap pribadi muslim mempunyai kewajiban azasi untuk menyebar kebenaran dan keadilan tersebut dengan cara-cara yang ma’ruf. Al-Islam sebagai sistem ajaran sempurna dan paripurna memberi arahan dan pedoman dalam pelaksanaan kewajiban tersebut menuju tercapainya kemuliaan makhluq manusia dan kesejahteraan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pelajar sebagai salah satu dari komponen umat tidak pula terlepas dari kewajiban-kewajiban tadi. Fakta sejarah menunjukkan bahwa tegaknya dan eksistensi negara Indonesia ini tidak terlepas dari kerjasama antara pelajar beserta komponen ummat lainnya. Karena keberadaan pelajar sangat menentukan eksistensi negara di masa mendatang.

Pelajar Muslim sebagai bagian terbesar dari Pelajar Indonesia menyadari betul akan potensi, posisi dan tugasnya dalam barisan pejuang penegak kebenaran, keadilan dan kedamaian ditengah kehidupan umat. Bekal iman dan islam, intelektual dan kecendekiaan serta semangat dan pengabdian diyakini sebagai anugerah dan amanah Allah yang harus dimanifestasikan untuk kemaslahatan bersama ummat.
Pemuda itu adalah generasi penerus bangsa. Jika pemudanya tidak bermoral, maka bangsa ini akan menjadi sepeeti itu juga. Jika oemuda itu mantap dari segi Ruhiyah, Jasadiyah, dan Fikriyah, maka selamatlah bangsa ini dengan peran mereka sebagai estafet dakwah.
Coba bayangkan jika pemimpin bangsa ini dipimpin oleh orang-orang yang tidak cerdas dan bermoral. Dapatkah kalian bayangkan hai sobat muda? Tapi coba kita bayangkan jika pemimpin bangsa ini dipimpin oleh generasi pemuda Islam yang mempunyai bekal cukup. Sungguh menyenangkan bangsa ini kedepan.
Seperti Abu Ubaidah bin Jarroh, dia menjadi seorang panglima perang saat menginjak usia kurang dari 20 tahun (bukan 50 tahun keatas). Karena dia mempunyai semangat sebagai pemuda Islam yang akan memberi kontribusi yang luar biasa bagi Islam
Dapatkah kita temukan pemimpin bangsa seperti Kholifah Umar Bin Abdul Aziz? Dialah yang membawa Islam menuju kejayaan. Dimanakah dicari Pemuda Harapan? Dapatkah ditemukan kembali kepada pemuda Islam yang memberi suatu hasil yang luar biasa bagi dunia? Seperti Ibnu Sina, al-Khawarizmi, Muhammad Al-Fatih (peruntuh tembok Konstatinopel) . Lalu, dimana kalian?
Gunakan potensi yang kalian miliki. Maksimalkanlah semua pemberian Sang Pencipta. Gunakan waktu dengan sebaik-baiknya, untuk menyongsong visi ke depan yang lebih baik.
Sebuah Lirik Nasyid :

-=Masa Muda=-

Masa muda usiaku kini
Warna hidup tinggal kupilih
Namun aku telah putuskan
Hidup diatas kebenaran

Masa muda penuh karya untuk-Mu Tuhan
Yang aku persembahkan sbagai insan beriman
Mumpung muda ku tak berhenti menapak cita
Menuju negeri syurga yang nun jauh disana

Kini jelas tiap langkahku
Illahi jadi tujuanku
Apapun yang aku lakukan
Islam slalu jadi pegangan

PANDANGAN MATA

Pandangan Mata Selalu Menipu
Pandangan Akal Selalu Tersalah
Pandang Nafsu Selalu Melulu
Pandang Hati Itu Yang Hakiki
Kalau Hati Itu Bersih

Hati Kalau Terlalu Bersih
Pikirannya Akan Menembus Hijab
Hati Jika Sudah Bersih
Firasatnya Tepat Karena Allah
Tapi Hati Bila Dikotori
Bisikannya Bukan Lagi Kebenaran

Hati Tempat Jatuhnya Pandangan Allah
Jasad Lahir Tumpuan Manusia

Utamakanlah Pandangan Allah
Daripada Pandangan Manusia