Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.Demi waktu,Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi.Kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan, dan saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran.( QS. Al-Ashr )

Jumat, 03 Desember 2010

Tidak Takut Miskin Karena Memberi

1 komentar

“Apakah kemiskinan itu, bu? Teman-temanku di taman mengatakan kita miskin. Benarkah itu, wahai ibuku?” tanya seorang anak.

”Tidak, kita tidak miskin, anakku,” jawab ibunya.

”Apakah kemiskinan itu?” iman, sang anak, bertanya lagi.

”Miskin bererti tidak mempunyai sesuatu apapun untuk diberikan kepada orang lain.” iman agak terkejut.

”Oh? Tapi kita memerlukan semua barang yang kita punya, apa yang dapat kita berikan?” katanya menyelidik.

”kamu ingatkah perempuan pedagang keliling yang ke sini minggu lalu? Kita memberinya sebahagian dari makanan kita kepadanya. Dan ia tidak mendapat tempat menginap di kota, ia kembali ke sini dan kita memberinya tempat tidur.”

”Kita menjadi bersempit-sempitan,” jawab iman.
Tapi sang ibu tak kalah menggembirakan anaknya. ”Dan kita sering memberikan sebahagian dari sayuran kita kepada jiran, bukan?” katanya.

”Ibulah yang memberinya. Hanya saya sendiri yang miskin. Saya tidak mempunyai apa-apa untuk saya berikan kepada orang lain.”

Sang ibu tersenyum dan memberikan pandangan teguh pada anaknya.”Oh, anakku kamu pasti punya. Setiap orang mempunyai sesuatu untuk diberikan kepada orang lain. fikirkanlah hal itu dan kamu akan menemukan sesuatu.”

Tidak lama setelah itu, sang anak pun mendapatkan jawapannya. ”Bu! Saya mempunyai sesuatu untuk saya berikan. Saya dapat memberikan cerita-cerita saya kepada teman-teman saya. Saya dapat memberikan kepada mereka cerita-cerita dongeng yang saya dengar dan baca di sekolah.”

”Tentu! iman pintar bercerita. Ayah kamu juga. Setiap orang senang mendengar cerita.”
“Saya akan memberikan cerita kepada mereka, sekarang ini juga!”

Dialog antara ibu dan anak itu, telah meneguhkan sebuah kesedaran besar, bahawa setiap kita dapat memberi. Ini lebih dari sekadar sebuah kesedaran sosial. Tapi kesedaran untuk menjadi lebih bererti lantaran membagi kebahagiaan untuk orang lain.

Akhlak tentang kesedaran terhadap kehidupan orang lain, dimiliki oleh qudwah yang tidak ada bandingnya, yakni Rasulullah saw. Utusan Allah itu bahkan disebut sebagai “orang yang tidak takut miskin kerana memberi”.

Dialah yang menanamkan prinsip menolong orang lain untuk menolong diri sendiri. Perhatikanlah bagaimana sabdanya, “Allah swt selalu menolong seorang hamba, selama hamba itu menolong saudaranya.” Atau, sabdanya yang lain, “Barangsiapa yang memberi kemudahan kepada saudaranya, maka Allah akan memberi kemudahan baginya di dunia dan akhirat.”

Itu adalah prinsip memberi dan menerima yang ditanamkan Rasulullah saw. Memberi kepada sesama dan hanya bertujuan untuk menerima dari Allah swt. Sehingga pada praktiknya, prinsip itu berubah menjadi memberi dan memberi, give and give. Sebab penerimaan itu tidak datang dari manusia tapi dari Allah swt.

Mengajak untuk mengerti, memberi bantuan kepada orang lain, menolong atau memberikan jasa, mengeluarkan infaq dan sedekah, sering memunculkan pertanyaan, ”Bagaimana saya dapat membantu orang lain? Saya sendiri dalam keadaan kurang dan memerlukan.” Sementara Rasulullah saw menanamkan nilai bersedekah ini, justeru pada saat seseorang sulit mengeluarkannya.

Suatu hari datang seorang lelaki kepada Rasulullah saw dan bertanya, ”Ya Rasulullah, sedekah apa yang paling besar pahalanya?” Rasulullah saw mengatakan, ”Engkau bersedekah sedangkan engkau sedang dalam keadaan sehat, sangat memerlukan, takut miskin, dan mempunyai keinginan menjadi kaya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjelaskan bahawa dalam situasi sesorang bertanya, ”Apa yang dapat saya bantu, kerana saya juga dalam keadaan memerlukan” tadi itulah, pahala sedekah. Semakin seseorang berada pada posisi antara memuaskan keinginan dirinya terhadap apa yang akan disedekahkan, semakin tinggi nilai sedekahnya jika benar-benar dilakukan. Tentu saja kesedaran memberi kepada orang lain, tidak selalu berupa benda, harta, wang, atau bantuan yang memiliki nilai. Tapi dapat berupa fikiran, waktu, idea-idea, fizik, atau apapun yang dapat kita beri dan bermanfaat.

Sekarang, kita layak bertanya pada diri sendiri, apa yang akan kita berikan untuk orang lain? Ingat, setiap kita punya sesuatu yang dapat kita berikan kepada orang lain. Fikirkanlah baik-baik apa sesuatu itu. Nescaya kita akan menemukannya.

1 komentar:

Unknown says:
27 Maret 2011 pukul 21.44

bagus

Posting Komentar

PANDANGAN MATA

Pandangan Mata Selalu Menipu
Pandangan Akal Selalu Tersalah
Pandang Nafsu Selalu Melulu
Pandang Hati Itu Yang Hakiki
Kalau Hati Itu Bersih

Hati Kalau Terlalu Bersih
Pikirannya Akan Menembus Hijab
Hati Jika Sudah Bersih
Firasatnya Tepat Karena Allah
Tapi Hati Bila Dikotori
Bisikannya Bukan Lagi Kebenaran

Hati Tempat Jatuhnya Pandangan Allah
Jasad Lahir Tumpuan Manusia

Utamakanlah Pandangan Allah
Daripada Pandangan Manusia